Perbedaan Suku Bunga Bank Antara Flat Dan Efektif

Pasti anda pernah mendengar suku bunga flat dan efektif, namun ada yang bertanya-tanya apa sih perbedaan suku bunga bank ini. Sebagi nasabah tentu harus tahu terutama jika ingin kredit / meminjam uang di bank. Karena lembaga keuangan dalam hal ini perbankan akan selalu membebani nasabah dengan bunga dalam pengembalian pinjaman.

Untuk itu sebelum anda mengajukan pinjmanan atau menyetujui pinjaman yang di tawarkan oleh bank, alangkah baiknya jika anda memahami dulu beberapa sistim bunga yang di terapkan bank berdasarkan perhitungannya.

Perbedaan Suku Bunga Bank Flat Dan Efektif

Perbedaan Suku Bunga Bank Antara Flat Dan Efektif

Dengan mengetahui perbedaan suku bunga Bank dari awal baik yang flat maupun yang efektif anda tidak akan terkejut lagi nanti saat mambayar ansuran pertama kali.

1. Sistem Suku Bunga Flat

Suku Bunga flat merupakan salah satu sistim yang di berlakukan bank dalam hal ini penetapannya dengan perhitungan suku bunga yang besarannya mengacu pada pokok utang awal. Sistem suku bunga flat biasanya banyak di terapkan oleh pihak bank pada jenis barang konsumsi atau KTA (Kredit Tanpa Agunan).

Pada sistem suku bunga flat ini porsi dan pokok dalam angsuran setiap bulan akan tetap sama. Misalnya, anda mengajukan pinjaman sebesar 100 juta, dan besar bunga flat 6% pertahun dan tenor 3 tahun.

Maka contoh perhitungannnya seperti berikut:

Rp 100 juta + (Rp 100juta x 6% x 3) / 36= Rp 500.000,-

Dari hasil perhitungan menggunakan sistem suku bunga flat di atas, maka anda di wajibkan membayar cicilan  perbulannya sebesar Rp500.000,-.

2. Sistem Bunga Efektif

Sistim bunga efektif sendiri adalah kebalikan dari sistem bunga flat, yaitu porsi bunga di hitung berdasarkan pokok utang yang tersisa. Dengan demikian, untuk porsi bunga dan pokok dalam angsuran per bulan akan berbeda, meskipun besar angsuran perbulan tetap sama. Biasanya penerapan sistem bunga efektif di gunakan pada jenis produk Kredit Pemilikian Rumah (KPR) atau berbagai kredit investasi yang di tawarkan oleh bank.

Sebagai contoh, misalnya anda berhutang Rp 100.000.000,- menggunakan sistim bunga efektif dengan bunga 12% per tahun dan pokok cicilan adalah Rp 10.000.000,- per bulan.

Maka perhitungannya akan seperti ini:

Bulan ke-1 bunganya 1% x Rp 100.000.000,- = Rp 1.000.000,-, Bulan ke-2 bunganya 1% x Rp 90.000.000,- = Rp 900.000,-, Bulan ke-3 bunganya 1% x Rp 80.000.000,- = Rp 800.000,-, dan seterusnya.

Berdasarkan Sifat Perhitungannya

1. Sistem Suku Bunga Fixed

Sistem bunga fixed, artinya suku bunga bersifat tetap. Bunga ini belaku selama periode tertentu sesuai kesepakatan kedua belah pihak antara debitur dengan pihak bank sebagai kreditur. Keuntungan sistem bunga ini bagi nasabah sebagai debitur adalah jika suatu waktu suku bunga pasar naik, maka anda tidak akan terbebani bunga tambahan.

2. Sistem Suku Bunga Floating

Sistem suku bunga floating ini merupakan kebalikan dari sistem bunga fixed.  Dalam hal ini untuk perhitungan bunga dapat berubah sewaktu waktu menyesuaikan dengan kondisi pasar. Misalnya, bila suatu waktu suku bunga pasar naik, maka bunga kredit anda juga akan ikut naik. Jika suku bunga pasar sedang turun maka suku bunga anda juga akan ikut turun (sesuai kondisi pasar).

Biasanya sistem suku bunga floating ini di terapkan untuk kredit jangka panjang, misalnya untuk produk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) maupun produk investasi. Baca Juga: 8 Tips Investasi Properti Terbaik Untuk Pemula.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *